Inilah Filosofi Mendaki Gunung Yang Membuat Kebanyakan Pendaki Ingin Terus Mendaki Sampai Kapanpun

Kegiatan pendakian sebuah gunung dapat memberikan berbagai pengalaman menarik selama pendakian,tidak hanya melihat keindahan sebuah pemandangan indah saja.Selama perjalanan, pendaki bisa melatih fisik dan juga mental. Bahkan dari pengalaman tersebut, ada banyak filosofi mendaki yang bisa kita petik sebagai suatu pelajaran. Bukan hal rahasia lagi kalau hiking adalah kegiatan yang sangat disukai para kaula muda. Hal ini sangatlah wajar, mengingat secara fisik mereka memang masih kuat dan mampu untuk mendaki gunung. Kegiatan ini biasanya dilakukan bersama dengan teman-teman yang disertai dengan rasa lelah dan canda tawa. Lantas, apa saja sih filosofi hidup yang bisa kamu ambil dari kegiatan mendaki ini? Mau tahu jawabannya? Berikut ulasan lengkapnya.

Suasana briefing sebelum pendakian (Photo by http://djafa.org)

Gagal dalam berencana berarti merencanakan kegagalan

Sebelum mendaki, kamu harus membuat rencana terkait dengan kapan waktu yang tepat untuk mendaki, berapa estimasi biaya yang harus dipersiapkan, apa saja barang yang perlu dibawa dan lain sebagainya. Sama dengan hidup, dimana kamu harus memiliki rencana yang jelas.

Penting untuk setiap kita menentukan tujuan dan berusaha menggapainya.

Meskipun setiap orang memiliki kapasitas kemampuan yang berbeda untuk bisa sampai puncak, pada dasarnya sebelum mendaki kamu harus menentukan tujuan. Apakah ingin bisa sampai puncak atau tidak. Sama halnya dengan hidup, dimana kamu akan dihadapkan pada pilihan ingin meraih kesuksesan sampai pada tahap apa. Karena pada dasarnya, arti kata sukses dan “puncak” adalah relatif. Ada orang yang udah menjadi seorang direktur, dianggap sebagai orang yang sukses dan udah mencapai puncak. Tapi adapula seseorang yang cukup menjadi manager tapi udah dianggap sebagai seorang yang sukses. Itulah hidup, dimana kamu dan dia memiliki tujuan “puncak” dan kesuksesan yang berbeda. Seseorang yang bisa mencapai tujuan sesuai dengan kemampuannya tentu pada intinya adalah orang yang sukses. Jadi, jika kamu gak sanggup sampai ke puncak, jangan patah semangat karena mungkin disitulah batas kemampuanmu.

Rintangan tanjakan setan gunung gede (Photo by http://pendakiangununglawu.blogspot.co.id/)

Bersabarlah, setiap rintangan dilewati membuat kita tegar dalam hidup. Pantang menyerah adalah kuncinya!

Mendaki gunung tapi tidak sabaran? Lebih baik batalkan perjalanan kamu. Karena dalam melakukan pendakian, kamu dituntut untuk bisa sabar dan tidak banyak mengeluh. Jika selama perjalanan pendakian kamu kerjaannya hanya mengeluh, jangan harap teman-teman yang lain akan mengajakmu lagi dalam perjalanan lainnya. Sama halnya dengan kehidupan, dimana setiap orang pastinya diberi ujian, halangan, dan kendala yang berat. Mendaki gunung sama dengan menjalani hidup ini, karena untuk sampai puncak kamu harus bisa bersabar dan pantang menyerah.

Mendaki adalah tentang menaklukan diri sendiri (Photo by ase7adventure)

Mendaki bukan tentang menaklukan gunung, sejatinya adalah menaklukan diri sendiri

Mampu mencapai puncak? Maka kamu termasuk orang yang bisa menaklukan diri sendiri. Kenapa? Karena kamu mampu melampaui titik kesabaran, rasa lelah, udara yang dingin serta oksigen yang menipis. Padahal, belum tentu orang lain mampu melewati kesulitan yang kamu alami. Dari situlah kamu akan mulai sadar bahwa pendakian yang dilalui bukan hanya tentang menaklukan alam yang liar tapi juga menaklukan diri sendiri, terutama ego yang ingin sekali menyerah.Simak Juga >> Gunung Patuha

Semua butuh pengorbanan untuk menggapai kebahagiaan

Berkorban? Tentu saja, pendaki memang dikenal banyak berkorban. Apa saja yang dikorbankan? Uang, waktu, tenaga, dan juga keluarga yang menunggu di rumah. Pendaki pastinya akan mengeluarkan banyak uang untuk bisa sampai puncak mulai dari tiket kereta api atau pesawat, biaya perlengkapan mendaki, tiket masuk, dan lain sebagainya. Disamping itu, waktu yang harusnya digunakan untuk istirahat di rumah justru dipakai untuk mendaki gunung yang tentunya sangat menguras tenaga. Dan pengorbanan terbesar adalah meninggalkan keluarga dalam kondisi khawatir akan keselamatan kamu selama perjalanan mendaki gunung. Bukan jadi rahasia lagi kalau banyak kecelakaan yang terjadi pada para pendaki gunung yang memang kurang berhati-hati. Filosofi pengorbanan yang dialami para pendaki tentunya juga berkaitan dengan perjalanan hidup. Karena untuk sampai puncak atau tujuan yang diinginkan, ada banyak rintangan serta halangan yang harus kamu lalui. Dan tentu saja, pengorbanan tidak bisa terlepaskan dari perjalanan menuju kesuksesan tersebut.

Mendaki itu butuh teman (Photo by ase7adventure)

Sama halnya dengan mendaki, dalam hidup ini kamu pasti membutuhkan teman.

Medan serta situasi selama perjalanan mendaki gunung akan menyadarkan kamu betapa pentingnya memiliki seseorang yang mau berada di sampingmu baik susah maupun senang. Teman tersebut juga bisa menjadi penyemangat langkahmu saat tubuh udah tidak sanggup lagi untuk terus mendaki sampai ke puncak gunung. Teman akan memberikan kamu semangat dengan mengatakan “ayo, kamu pasti bisa dan kita akan bersama-sama berada di atas puncak”. Sama halnya dengan hidup, karena kamu butuh teman yang mampu memberikan dukungan agar kamu bisa mencapai kesuksesan yang diinginkan.

Teman sejati ada disaat susah dan senang kita (Photo by sociotravel)

Dengan mendaki bersama, kamu bisa lebih jauh mengenal teman-temanmu. Kamu akan tahu siapa teman sejati, dan siapa yang hanya “mengaku teman” disaat dia butuh

Banyak pendaki yang mengatakan bahwa melalui perjalanan menuju puncak gunung, kamu bisa mengetahui bagaimana watak asli teman tersebut. Karena di atas puncak, kamu akan melihat bagaimana teman yang selama ini kamu kenal akan memperlakukan orang lain, dirinya atau diri kamu sebagai temannya saat ia sedang merasa kesulitan. Pasalnya ada teman yang lebih mementingkan dirinya sendiri tapi adapula teman yang sangat royal dan berbagi dengan teman-temannya meskipun dirinya juga sedang dalam kesulitan atau kelelahan. Nah, dari sinilah filosofi hidup yang bisa dipetik bahwa dalam kehidupan akan ada teman yang benar-benar ada di sampingmu saat sedang sulit dan bahagia tapi adapula teman yang hanya ada di sampingmu saat bahagia saja.

Baca Juga : Nama Gunung di Jawa Timur

 

Menyusuri jalan pulang (Photo by @r_diyan)

Puncak adalah bonus, tujuan sejati mendaki adalah kembali pulang dengan selamat

Setelah melakukan pendakian, kamu akan menyadari bahwa tempat ternyaman dan paling dirindukan adalah rumah. Terutama masakan ibu yang tentunya sangat berbeda dengan makanan di atas gunung yang standar dan ala kadarnya. Tetapi entah mengapa segala kepahitan yang dirasakan saat mendaki malah membuat kita rindu untuk terus kembali mendaki, hehe. Tetap perlu disadari mencapai puncak tidaklah harus, yang musti kudu wajib adalah kembali pulang dengan selamat. Melihat senyum ibumu adalah segalanya…

3 thoughts on “Inilah Filosofi Mendaki Gunung Yang Membuat Kebanyakan Pendaki Ingin Terus Mendaki Sampai Kapanpun

Leave a Comment